<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516860623048679500</id><updated>2011-08-03T07:36:38.865+07:00</updated><title type='text'>climate change report</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://climate-change-report.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516860623048679500/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://climate-change-report.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>cOoL...!!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05937225358468820980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516860623048679500.post-4536457922339963966</id><published>2010-03-27T13:08:00.000+07:00</published><updated>2010-03-27T13:08:25.747+07:00</updated><title type='text'>PLN Sambut Baik Aksi Earth Hour</title><content type='html'>&lt;h5&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;                     &lt;!-- SIZER --&gt;&lt;!-- SIZER CLOSED --&gt;                     &lt;!-- CONTENT --&gt;                     &lt;!-- skyscraper banner --&gt;                                              &lt;!-- skycsraper banner --&gt;                                                                                            &lt;img border="1" src="http://i.okezone.com/content/2010/03/27/56/316697/4ol3iluZhw.jpg" width="250" /&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA&lt;/strong&gt; - Masyarakat Indonesia di kota-kota besar seluruh Indonesia akan mematikan lampu selama satu jam pada malam ini dalam rangka memperingati Earth Hour yang digelar World Wildlife Fund (WWF). Direktur Utama (Dirut) PT PLN Dahlan Iskan menyambut baik aksi tersebut dan berharap masyarakat bisa menyadari arti pentingnya listrik.&lt;/h5&gt;&lt;h5&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5&gt;&lt;br /&gt;"Sudah hampir tiga bulan tidak ada mati lampu. Orang sudah lupa dan menganggap listrik tidak penting. Saya kira aksi Earth Hour ini bagus untuk mengingatkan pentingnya penghematan listrik," ujar Dahlan di Jakarta, Sabtu (27/3/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, kampanye mematikan lampu selama satu jam ini nantinya akan dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia. Tahun ini adalah kali kedua Indonesia ikut mendukung aksi Earth Hour. Adapun untuk tahun ini, masyarakat diimbau untuk mematikan lampu sejak pukul 20.30-21.30 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus wilayah DKI Jakarta, Pemerintah Daerah (Pemda) berkomitmen memadamkan lampu di lima ikon kota, yakni Bundaran HI dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balai Kota, Patung Pemuda dan Air Mancur Patung Arjuna Wiwaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Dahlan mengusulkan agar aksi pemadaman lampu ini hendaknya dilakukan sebelum pukul 20.30 WIB. Sebab, saat itu beban listrik masih cukup tinggi sehingga dengan adanya pemadaman lampu bisa membantu mengurangi beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau setelah jam 21.00 WIB, beban listrik memang relatif sudah berkurang," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini Dahlan mengungkapkan, sepanjang sejarah di Indonesia, beban puncak tertinggi pemakaian listrik terjadi pada 3 Maret 2010. Seperti diketahui saat itu tengah berlangsung Sidang Paripurna Kasus Bank Century di DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beban tertinggi yang pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia adalah saat Sidang Paripurna Century. Semua orang menonton tayangan langsung melalaui televisi. Saat itu beban listrik di Jawa-Bali mencapai 17.500 MW," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mendukung aksi penghematan listrik seperti Earth Hour, PLN juga mengimbau kepada masyarakat untuk menghemat pemakaian listrik pada bulan Juli-September dimana suhu udara meningkat dua derajat celsius. Umumnya, ujar Dahlan, pemakaian listrik meningkat karena masyarakat menyalakan AC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gerakan seperti Earth Hour akan lebih efektif apabila dilakukan pada bulan Juli-September. Pada hari itu suhu di Jakarta naik dua derajat, semua menghidupkan AC. Akibatnya beban trafo akan penuh," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;General Manajer PLN Disjaya Purnomo Willy memperkirakan penghematan daya yang bisa diperoleh dari aksi Earth Hour selama satu jam tersebut mencapai 100 MW atau setara Rp70 juta. Pada kondisi normal, beban listrik di wilayah Jakarta dan Tangerang pada jam-jam tersebut mencapai 3.900 MW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dari perkiraan saya mungkin 100 MW. Normalnya malam minggu itu sekitar 3.900 MW," kata Purnomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Dahlan, Purnomo juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak hanya mematikan lampu satu jam saja, melainkan mengurangi pemakaian listrik seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari sisi PLN kita selalu menyampaikan masalah hemat energi. Bukan hanya satu jam, tapi kita mengimbau mengurangi pemakaian," ujarnya.&lt;/h5&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516860623048679500-4536457922339963966?l=climate-change-report.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://climate-change-report.blogspot.com/feeds/4536457922339963966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://climate-change-report.blogspot.com/2010/03/pln-sambut-baik-aksi-earth-hour.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516860623048679500/posts/default/4536457922339963966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516860623048679500/posts/default/4536457922339963966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://climate-change-report.blogspot.com/2010/03/pln-sambut-baik-aksi-earth-hour.html' title='PLN Sambut Baik Aksi Earth Hour'/><author><name>cOoL...!!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05937225358468820980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516860623048679500.post-1108966221355863232</id><published>2009-11-21T14:54:00.000+07:00</published><updated>2009-11-21T14:59:19.043+07:00</updated><title type='text'>Menhut Cabut Sementara Izin Perluasan HTI PT RAPP</title><content type='html'>&lt;span class="reporter"&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;      &lt;img src="http://www.detiknews.com/images/content/2009/11/21/10/hutan-%28dalam%29.jpeg" vspace="0" border="0" hspace="0" /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru&lt;/strong&gt; - Menhut Zulkifli Hasan akhirnya nencabut izin sementara perluasan hutan tanaman industri (HTI) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Riau. Pencabutan izin sementara itu disampaikan Menhut saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menhut akhirnya menyetujui adanya jeda tebang di Riau. Pencabutan sementara ini kita sambut dengan baik. Kita berharap SK pencabutan sementara izin HTI PT RAPP segera dikeluarkan," kata Direktur Walhi Riau, Hariansyah Usman dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (20/11/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hariansyah, keputusan Menhut itu disampaikan  dalam rapat kerja dengan Komisi IV yang berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis. Ketika rapat kerja itu, pihak Walhi diberi kesempatan untuk menyaksikan jalannya rapat tentang pembahasan masalah konflik kehutanan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walau saat itu pembahasan secara nasional, namun sejumlah kasus yang terjadi di Riau menjadi perhatian khusus. Salah satunya yaitu tadi, Menhut menyetujui pencabutan izin sementara HTI PT RAPP," kata Hariansyah Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rapat tersebut, lanjut Kaka, begitu sapaan akrabnya, dalam waktu dekat Menhut akan melakukan kunjungan kerja ke Riau. Kunjungan ini ingin melihat persoalan yang terjadi di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menhut akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi HTI RAPP yang saat ini terjadi penolakan dari kalangan aktivis dan masyarakat Riau," kata Kaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Walhi Riau juga akan memberikan masukan terhadap Menhut atas kondiri riil sejumlah perizinan yang selama ini dikeluarkan Menhut sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami yakin kondisi riil di lapangan selama ini banyak yang tidak disampaikan secara utuh kepada Menhut. Karena itu kami di Jakarta sampai akhir bulan ini guna memberikan masukan kepada Menhut serta DPR RI tentang kondisi hutan Riau yang telah porak poranda," kata Kaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau saat ini pencabutan izin HTI RAPP seluas 115 ribu hektar itu sifatnya baru sementara, menurut Kaka, hal itu merupakan langkah maju. Dengan demikian, Menhut akan melihat langsung kondisi hutan hutan di Riau termasuk dugaan izin sebelumnya penuh dengan manipulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita mendukung langkah mencabutan sementara ini. Tentunya dengan harapan, setelah Menhut ke lapangan izin RAPP itu dicabut untuk selamanya," kata Kaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516860623048679500-1108966221355863232?l=climate-change-report.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://climate-change-report.blogspot.com/feeds/1108966221355863232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://climate-change-report.blogspot.com/2009/11/menhut-cabut-sementara-izin-perluasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516860623048679500/posts/default/1108966221355863232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516860623048679500/posts/default/1108966221355863232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://climate-change-report.blogspot.com/2009/11/menhut-cabut-sementara-izin-perluasan.html' title='Menhut Cabut Sementara Izin Perluasan HTI PT RAPP'/><author><name>cOoL...!!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05937225358468820980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
